Jalan Sufi
Reportase Dunia Ma'rifat | |
| | CATATAN-CATATANDimana mungkin, kutipan-kutipan telah dibuat dari karya-karya Eropa, Amerika dan karya lain yang komparatif. Semua tanggal dinyatakan dalam term Era Kristen (Masehi). 1. 'Tholuck, F.A.G., Sufismus sive Theosophia Persarum pantheistica (Berlin, 1821, dalam bahasa Latin). 2. Ritual masonis (anggota perkumpulan semacam kebatinan), kata, istilah, dan lain-lain, seringkah dapat 'diuraikan' dengan menggunakan sistem-sistem Sufi. Sebagai contoh dan rujukan, lihat karya saya The Sufis (New York 1964; London, 1966), hlm. xix, 50, 178, 179, 182, 183, 184, 186, 188. Berkaitan dengan tradisi (lihat J.P Browm, The Darvishers [London, 1927], hlm. 229) Para anggota Mason (yang) Sufi memiliki satu wewenang dari Pondok Agung (Grand Lodge) Tiberias, anggota-anggota yang melarikan diri dari penghancuran Jerusalem. Mereka telah menjadi terkenal secara luas di Timur Dekat melalui Dzun Nun (wafat 860). 3. Berhubungan dengan penyair dan guru Sufi abad keempatbelas, Jami' (dalam karyanya Nahfat al-Uns). Syeikh Suhrawardi mencatat kata dari abad kesembilan, dan kata tersebut tidak ditemukan di dalam kamus-kamus serupa satu tanggal yang secara komparatif sebelum tanggal tersebut.Imam Qusyairi dalam karyanya Rasail menempatkan kemunculan kata-kata tersebut pada sekitar 822 M. Para Sufi lebih awal telah menggunakan banyak nama-nama, termasuk 'Keluarga', 'Pertapa', 'Saleh', 'Orang-orang yang Taqarrub'. 4. Misalnya, dalam Ibnu Masarra dari Cordoba (Spanyol) (883-931). Untuk pengaruh Sufistik di Eropa lihat misalnya, Garcin de Tassy, Pendahuluan pada Mantiq-Uttair ('Parliament of the Birds') (Paris, 1864). 5. Shuf = wool. Para eksternalis di Timur dan Barat telah seringkali mengadopsi etimologi tersebut, yang oleh karena itu muncul di dalam buku-buku referensi sebagai derivasi. 6. 'Wool adalah pakaian binatang', 'Ash-Shuf libas al-Inam': kutipan bahasa Arab dari The Revealation of the Veiled ('Pembukaan Rahasia tentang Misteri'), karya Hujwiri. Lihat Sirdar Ikbal Ali Syah, Islamic Sufism (London, 1933), hlm. 17. 7. Derivasi ini dan lainnya telah digunakan oleh diri kaum Sufi sendiri, menerangkan bahwa 'hakim' bukan kata orisinil, tetapi paling mendekati yang mana para Sahabat dapat menemukan kata milik mereka untuk diri mereka sendiri. 8. Manfaat lebih tinggi dari pikiran: misalnya, bandingkan, Kuplet Persia, 'Ba Mursyid besyudi Insan/Be Mursyid mandi Haiwan' ('Dengan seorang Penunjuk Jalan, engkau mungkin menjadi seorang manusia yang sesungguhnya, tanpa dia engkau mungkin akan tetap seekor binatang'); dan ar-Rumi : 'Dari satu daerah ke daerah lain manusia pergi, mencari alasan kehadirannya, dapat diketahui, keadaan sehat dan tegap -- melupakan bentuk-bentuk lebih awal dari kecerdasan. Maka, akan meninggalkan jauh di belakang bentuk-bentuk pemahaman yang sekarang... Ada seribu bentuk-bentuk lain dari Pikiran (jiwa) ... ' dan 'Tingkat dari kebutuhan menentukan perkembangan alat tubuh manusia ... oleh karena itu tingkatkan kebutuhanmu.' (Matsanavi-i-Maanavi: Kuplet tentang Makna Batin). 9. Jewish Encyclopaedia, vol. XI, hlm. 579, 580, 581, dan seterusnya. Orang-orang Bijak Yahudi dipandang oleh para sarjana Barat sebagai mengikuti aliran Sufi Spanyol termasuk: Juda Halevi dari Toledo dalam karyanya Cuzari; Moses ben Ezra dari Granada; Josef ben Zadiq dari Cordoba, dalam karyanya Microcosmus; Samuel ben Tibbon; Simtob ben Falaquera. 10. Identitas gagasan-gagasan Sufi dengan orang-orang Mesir kuno, aliran Pythagorian dan Platonik tercatat, misalnya oleh M.A. Ubicini, Letters on Turkey (London, 1856). 11. Lihat Tholuck, op. cit. Buku ini muncul sepuluh tahun sebelum Mme Blavatsky dilahirkan, dan sembilan tahun sebelum kelahiran Kol. Olcott, salah seorang pendiri Masyarakat Teosofis (Theosophical Society). 12. R.A. Nicholson, The Mystic of Islam (London, 1914), hlm. 3-4. Profesor Nicholson pada masanya dipercaya menjadi seorang penulis tentang Sufisme dan menerbitkan beberapa buku dan terjemahan yang bermanfaat. 'Nicholson adalah penulis terbesar mengenai mistikisme Islam yang telah dilahirkan negara ini, dan didalam banyak bidang yang dimilikinya, adalah penulis paling penting di dunia.' (The Times, 27 Agustus 1945). 13. R.A. Nicholson (penerjemah), The Kasyf al-Mahjub ('Revelation of the Veiled') (London, 1911), hlm. 34. 14. Untuk Cyprian Rice, The Persian Sufis (London, 1964), hlm. 9. Peningkatan orang-orang Katholik Roma yang tertarik dalam Sufisme, terlihat dalam efek yang signifikan atas para mistikus dan akademisi Katholik, yang belum lama berselang dijelaskan oleh kenyataan bahwa buku ini telah memberi Nihil Obstat dan The Imprimatur dari penulis-penulis Dominica dan Diocesa dari Roma. Penulisnya percaya bahwa tujuan masa depan dari Sufisme akan 'memungkinkannya suatu penyatuan dari pemikiran religius antara Timur dan Barat, suatu penggabungan dan pengertian oekumenikal yang utama, yang mana akan membuktikan terakhir kali dalam rasa paling benar, atas kedua sisi, suatu pembalikan kepada sumber, kepada kesatuan yang asli' (Ibid., hlm. 10). 15. Disimpulkan oleh seorang Sufi kuno, Abdul Aziz Mekki (wafat 652) sebagai: 'Berilah seekor keledai (makanan) salad, dan ia akan bertanya jenis (makanan) apakah rumput berduri ini?' 16. The Sufis (NewYork, 1964; London, 1969). 17. Prof Miguel Asin y Palacios, 'Un Precurso hispanomusulman de San Juan de la Cruz', Andalus, I (1933), hlm. 7 dan seterusnya. Lihat juga P Nwyia, 'Ibnu Abbad de Ronda et Jean de la Croix', Andalus, XXII (1957), hlm. 113 dan seterusnya. 18. Asia, 'El Simil de los Castillos y moradas del alma en la mistica islamica y en Santa Teresa', Andalus, II (1946), hlm. 263 dan seterusnya. 19. Shah, The Sufis, hlm. 239; dan Baron Carra de Vaux dalam Journal Asiatique, XIX, hlm. 63. The Franciscan, Roger Bacon (wafat 1294), mengenakan pakaian Arab, berceramah di Oxford, mengutip Hikmat al-Isyraq ('Wisdom of Illumination') diidentifikasi dengan aliran Sufi dari Syeikh Syihabuddin Yahya Suhrawardi, yang telah dieksekusi karena pengingkaran terhadap agama dan membawakan (perilaku buruk) 'filsafat kuno' pada tahun 1191. Untuk hubungan Franciscan dengan Sufisme, lihat The Sufis. 20. Shah, The Sufis, hlm. xvi, 155, 191, 194, 196, 199, 202-4, 243, 370. 21. Asin, Abenmasarra; dan Shah, The Sufis, hlm. xvii, xix, 42,140, 203-5, 243, 244, 246, 247, 261, 370, 388, 389. Lihat juga J. Ribera, Origines de la Filosofia de Raimundo Lulio. 22. C.F. Loehlin, 'Sufisme and Sikhisme', Moslem World, xxix (1939), hlm. 351 dan seterusnya; dan lihat Shah, The Sufis, hlm. 358 dan seterusnya. 23. C. Swan, Gesta Romanorum (London, 1829), dan lain-lain. Pertamakali dikenal manuskrip Barat dari koleksi tanggal ini dari tahun 1324. Cerita-ceritanya merupakan sumber dari karya Shakespeare: King Lear, The Merchant of Venice, Pericles, The Rape of Lucrece. Chaucer, Lydgate dan Boccaccio semua termasuk bahan dari sumber ini. 24. A. Barth, Religions of India; Dr. Tara Charid, The Cultural History of India (Heyderabad, 1958), hlm. 153; dan Shah, The Sufis, hlm. 356 dan seterusnya. 25. Lihat Shah, The Secret Lore of Magic (London, 1957). Untuk sikap Sufi terhadap magis, lihat The Sufis, hlm. 326 dan seterusnya; dan Shah, Destination Mecca (London, 1957), hlm. 169 dan seterusnya. Untuk bagian-bagian supranatural pelatihan Sufi, lihat J.P. Brown, The Darvishes (London, 1867; republished 1927); L.M J. Garnett, Mysticisme and Magic in Turkey (London, 1912); S.A. Salik, The Saint of Gilan (Lahore, 1953); J.A. Subhan, Sufism, its Saints and Shrines (Lucknow, 1939). 26. Metode psikologikal Freud tentang interpretasi simbol-simbol digunakan dalam Niche karya Sufi al-Ghazali, sembilan ratus tahun sebelum Freud. Lihat (s.v. Symbolism) terjemahan Gairdner dari The Niche (Royal Asiatic Society, London, 1924). 'Teori Archetypal Jungian' telah dikenal kaum Sufi pada zaman kuno: lihat R. Landau, The Philosophy of Ibn Arabi (New York, 1959), hlm. 4 dan berikutnya. Hutang Freud kepada Cabbalisme dan mistikisme Yahudi, yang mana para penulis Yahudi menganggap sebagai turunan dari Sufisme atau identik dengan itu, dibahas Prof David Bakan dalam Sigmurid Freud and the Jewish Mystical Tradition (New York, 1958). 27. Laporan-laporan tertentu dan lainnya, tidak mengetahui kenyataan bahwa buku-buku Sufi jarang memiliki indeks (sehingga pembaca akan membaca buku di dalam keseluruhannya), telah menyesalkan tidak adanya indeks untuk The Sufis. The Coombe Springs Press telah menerbitkan suatu indeks secara tersendiri untuk The Sufis pada tahun 1965. 28. E.WF. Tomlin, F.R.A.S., Great Philosophers of The East (London, 1959), hlm. 295. 29. Great Philosophers of the West. 30. Dipublikasikan di London, 1959 dan 1960. 31. Beberapa pendapat ahli mengenai 'asal-usul' dari Sufisme: 'Pengaruh dari mistikisme Kristen adalah penting' (Tomlin, Great Philosophers of the East, hlm. 295); 'Suatu reaksi dari beban-beban monoteisme yang kering, hukum yang kaku, dan ritual yang dingin' (rev. Dr. Sell, Sufism [Madras, 1910], hlm. 11); ... mempunyai asal-usulnya dalam konsepsi-konsepsi religius India danYunani' (J.P Brown, op. cit., p.v); 'muncul menjadi suatu jenis Gnostik' (J.W Redhouse, The Mesnevi [London, 1881], hlm. xiv); ' ... karakter emosional Sufisme, demikian berbeda dari teori-teori dingin dan kurang darah para filosuf India, adalah nyata atau jelas'. (E.G. Browne, A Literary History of Persia [London,1909], hlm. 442); 'sebuah sekte kecil Persia' (F. Hadland Davis, The Persian Mystics: Jalaluddin Rumi [London, 1907], hlm. 1); 'pemutar-balikan ajaran-ajaran Muhammad' (Miss G.L. Bell, Poems from the Divan of Hafiz [London, 1928], hlm. 51); 'berasal sebagian dari Plato, "the Attic Moses", tetapi utamanya dari agama Kristen' (E.H. Whinfield, Masnavi I Ma'navi: the Spiritual Couplets [London, 1887], hlm. xv); 'Para orientalis ... sesungguhnya telah mempertalikan atau menghubungkan asal-usul Sufisme pada Persia, Hindu, Neoplatonik atau sumber-sumber Kristen. Tetapi penghubungan-penghubungan ini telah selesai dengan pembatalan satu sama lain' (T. Burckhardt, An Introduction to Sufi Doctrine [Lahore, 1959], hlm. 5). 32. R.A. Nicholson, seleksi dari Diwan-i-Syams-i-Tabriz (Cambridge, 1898: rev. 1952), hlm. xxxvi dan seterusnya. Profesor Edward Palmer telah mencatat untuk para murid Barat kenyataan bahwa mutrib, bahasa Arab padanan dari troubador, juga menjadi calon untuk 'guru Sufi' (Oriental Mysticism, hlm. 80). Profesor Hitti bahkan lebih eksplisit: Di Prancis selatan propinsi utama muncul para penyair terlatih dan berpengalaman menjelang abad kesebelas dengan cinta yang mendebarkan diungkapkan dalam sebuah tamsil atau perumpamaan fantastik yang kaya. Para troubador (tarab: musik, nyanyian) yang termasyhur di abad keduabelas telah meniru bagian selatan kontemporer, para penyanyi zajal. Mengikuti preseden Arab, pemujaan terhadap perempuan dengan tiba-tiba muncul di Eropa barat daya. The Chanson de Roland, karya besar paling mulia dari literatur Eropa awal, yang muncul sebelum 1080 menandai permulaan dari masyarakat baru yakni Eropa Barat --seperti puisi-puisi Homeric menandai permulaan sejarah Yunani, mendapatkan eksistensinya pada suatu kontak militer dengan Muslim Spanyol. (PK. Hitti, History of the Arabs [edisi 1951], hlm. 562). 33. Lihat Pendahuluan dari Robert Graves pada Shah, The Sufis hlm. xvii. Penerjemahan bahasa Inggris yang paling dapat diterima dari karya Aththar Parliament of the Birds adalah versi tahun 1954, diterjemahkan oleh C.S. Nott dari copy bahasa Prancis, diterbitkan kembali tahun 1961. Reverend (Pendeta) Baring-Gould telah menunjukkan pada masa Victorian legenda Tell tanpa latar belakang sejarah. Dictionary of Dates karya Haydn (juga Tell) mengatakan: 'Cerita-cerita yang populer mengenainya telah diperagakan menjadi mistis oleh Profesor Kopf dari Lucerne, 1872.' 34. Cara pemujaan Peacock Angel ('Malaikat Burung Merak') ditemukan oleh guru Sufi Syeikh Adi ben Musafir (wafat 1162). Satu bab mengenai masyarakat ini ditemukan dalam Bab 15 dari Arkon Daraul, Secret Societies (London, 1961), diterbitkan di New York pada tahun 1961 sebagai A History of Secret Societies. Simbolologi dari pemujaan dapat menjadi tidak terkunci dengan penggunaan 'notasi abjad' sistem penulisan (kode) yang digunakan oleh kaum Sufi, digambarkan dalam Shah, The Sufis; ini secara ekstensif digunakan oleh para penyair dan kaum Sufi. Lihat juga catatan no. 93. 35. G.I. Gurdjieff meninggalkan petunjuk yang berlimpah pada asal-usul Sufistik yang sebenarnya di setiap poin dalam 'sistem'-nya; meski itu tak pelak lagi memiliki lebih spesifik pada bentuk Khagjagan (Naqsyabandi) dari ajaran darwis. Dalam penambahan untuk praktek-praktek dari 'karya', seperti buku-buku Beelzebub karya Gurdjieff (sebaliknya dikenal sebagai All and Everything) (New York,1950) dan Meeting with Remarkable Men (cet. 2, 1963) dengan banyak referensi, pada sistem Sufi. Ia juga mengutip nama kaum Naqsyabandiyah, Kubrawiyah dan Sufi lainnya, dalam 'prospektus'-nya th. 1923 (Paris) dari suatu presentasi publik (The Echo of the Champs-Elysees, 1, 37, bagian 2 [Paris, 13-25 Desember, 1923]), mengutip sebagai sumber, inter alia, Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Qalandariyah, Kubrawiyah dan praktek-praktek Darwis Mevlevi. Maurice Nicoll, Psychological Commentaries (London, 1952) dan The New Man (London, 1950) berlimpah dengan contoh-contoh metode Sufistik yang digunakan untuk menginterpretasi dokumen-dokumen religius dan lain-lain. Karya-karya ini menyimpang dari cara atau pemakaian dalam hubungannya dengan subyek-subyek dalam suatu cara acak (random), dan lebih menjadi terbantu pada 'aksidental' daripada suatu komunitas murid-murid terpilih. Dengan memperhatikan P.D. Ouspensky: sebagian besar melalui kontaknya dengan Gurdjief, filosof Rusia ini mengedepankan nama-nama kaum Sufi dan Sufisme sebagai suatu sumber dari psikologi kuno, semisal dalam The Psychology of Man's Possible Evolution (London, 1951), hlm. 7. Ouspensky, bagaimanapun, tidak memiliki kontak langsung dengan kaum darwis dan tidak mampu menunjukkan dampak dari pentingnya transposisi ide-ide Sufisme dari sumber-sumber pustaka mereka di Timur dan literatur lainnya ke dalam penggunaan terminologi pada 'sistem'-nya. Masalah apakah ia mampu melakukan sedemikian itu, ia akan mendapati kenyataan bahwa 'sistem'-nya mengabaikan tuntutan (keharusan) Sufi akan 'waktu, tempat dan orang-orang tertentu'. Ia mencoba mensistematisasikan materi (bahan) dari Gurdjieff dalam In Search of the Miraculous (London, 1950), dalam nama ia merekam pembicaraan-pembicaraan dengan Gurdjieff. Baik kaum Sufi Naqsyabandiyah dan para pendukung Gurdjiefl-Ouspensky menyebut studi mereka sebagai 'The Fourth Way'. Lihat Ouspensky The Fourth Way (London, 1957). 36. Hammerskjold and Sufis: Jalaluddin ar-Rumi dikutip secara harfiah olehnya (Hammerskjold, Markings [London, 1964], hlm. 95 dan seterusnya; lihat juga --dalam Reader's Digest, mengutip Dagens Nyheter (Stockholm, 1962)-- salinannya tentang puisi atau syair Sufi diterjemahkan oleh Sir William Jones (1746-94):
37. Drama Shakespeare berisi tidak hanya banyak cerita-cerita Persia, Arab dan asli Timur, tetapi juga apa yang mungkin tampak nyaris secara harfiah kutipan-kutipan dari literatur Sufi. Profesor Nicholson telah mencatat satu atau dua padanan dari Diwan-i-Syams-i-Tabriz dalam terjemahannya dari buku tersebut (lihat catatan no. 32 di atas), hlm. 290 dan 291 dan seterusnya. Lihat juga Garcin de Tassy, Philosopical and Religious Poetry of the Persians (Paris, 1864). 38. Profesor Kenneth Walker, dalam Diagnosis of Man (London, 1962), mengutip aliran Sufi Sanai-Rumi, pemakaian legenda dari 'Elephant in the Dark' ('Gajah didalam Gelap'), untuk memperlihatkan bagaimana orang modern mungkin meraba-raba dengan bagian-bagian dari suatu problem, alih-alih memasuki inti masalah. Walker mengikuti Gurdjieff, lihat karyanya Study of Gurdjieff's Teaching (London, 1957). 39. Sebagai 'The Tale of Ugly Duckling', lihat Shah, The Sufis. 40. F. Hitchman, Burton, I, hlm. 286. 41. Oleh L.A. Hill. 42. Misalnya. J.G. Saxe, The Blind Men dan the Elephant (London, 1964); dan C. Downing (terj.), Tales of the Hodja (London, 1964). 43. Shah, The Sufis, hlm. 208 dan lain-lainnya, 243. Untuk asal-usul 'perempuan penyihir' Timur, lihat J.H. Bracelin, Gerald Gardner -- Witch (London, 1960), hlm. 75; dan A. Daraul, Witches and Sorcerers (New York,1966), hlm. 20, 23-4, 73, 204, dan sebagainya. 44. Lihat Shah, The Sufis, hlm. 187,191, 223, 389; dan A. Daraul, Secret Societies (London, 1961). Orang-orang Rosicrusia menegaskan bahwa pendiri mereka telah membawakan pengetahuan dari Arabia, Fez, dan Mesir. Asul-usul telah dilacak oleh Daraul (Ibid., hlm. 195), kepada tarekat Sufi Qadiriyah. 45. Daraul, Secret Societies, Bab 22; E.J. Jurji, The Illuministic Sufis, JAOS 57, hlm. 90 dan seterusnya, 1937; dan Brown, Darvishes. 46. Lihat Shah, The Sufis, selanjutnya, untuk referensi mengenai pengaruh dari al-Ghazali dan lainnya atas Eropa Barat. Buku-buku mengenai skolatikisme dan sejarah tentang pemikiran abad pertengahan paling banyak merujuk kepada sumber tersebut. Bandingkan Hitti, History of the Arabs; dan G. Left; Mediaeval Thought (London, 1958). 47. Leff, ibid.; dan O.B. Kapor, 'Research Thesis on the Mystic Philosophy of Kabir' (Allahabad University Studies, 10, 1933), hlm. 166., 48. W. Ivanow, The Truth Worshippers of Kurdistan (Leiden, 1953), hlm. 57-68 dan selanjutnya. 49. Orang-orang yang telah diketahui sebagai orang-orang Assassin adalah suatu organisasi Sufi yang aslinya disebut Asasin (Orang-orang Fundamentalis), suatu cabang yang diambil alih pada abad kesepuluh Masehi oleh Hasan, putra dari Sabah, dikenal sebagai the Great Assassin atau Old Man of the Mountains. Nama ini merupakan suatu kesalahan terjemahan dari penggunaan yang dipaksakan terhadap judul Syeikh al-Jabal (Guru dari Pegunungan), kesalahan yang dibawa atau disumbangkan oleh Barat dalam memberikan makna alternatif (Syeikh) dari 'Senex del Monte' yang disebut para tentara perang Salib atasnya. Orang-orang (pendukung) Aga Khan dianggap diturunkan dari Hasan tersebut. Lainnya, pemimpin lawan dari cara penyembahan tersebut bertempat di Bombay. 'Aliran' yang asli, betapapun, terus berlangsung secara mandiri. Lihat Sirdar Ikbal Ali Shah, 'The General Principles of Sufism' (Hibbert Journal, vol. 20 [ 1921-2], hlm. 523-35). Kebingungan luar biasa telah diciptakan di Barat oleh terjemahan harfiah tentang makna dari nama-nama Arab. Oleh karena itu sebagai contoh, ketika 'Algazel" mungkin terlihat menjadi al-Ghazali, tidak semua orang mengakui 'Doctor Maximus' ('The Greatest Teacher') sebagai asy-Syeikh al-Akbar (Ibnu al-Arabi); atau 'Basil Valentine' ('The Triumphant King') sebagai al-Malik al-Fatih, ahli kimia; atau karena kejadian itu, risalah anti tukang sihir (perempuan) Errores Gaziorum sebagai 'Ghulat Aljazair' ('Sekte Algeria'). 50. Shah, The Sufis, hlm. 309, 362-4. 51. Ibid., hlm. 309. Materi Yoga dan Zen sekarang cenderung mengabaikan permintaan-permintaan khusus terhadap pilihan dari murid dan jenis guru. 52. Ibid., hlm. xiv, xix, 225-7, 399. 53. Ibid., hlm. xxii, 50, 104, 106, 115, 163, 166, 223, 393. 54. Profesor M. Asin Palacios: Islam and the Divine Comedy (Ibnu al-Arabi, 1165-1240), tr. H. Sunderland (London, 1926). (La Escatologia Musulmana en la Divina Comedia, Madrid, 1961). 55. Lihat, misalnya, Syamsuddin Ahmad al-Aflaki, Manaqib al-Arifin: terjemahan Redhouse sebagai The Acts of Adepts (London, 1881); dicetak ulang di dalam faksimili editing Kingston sebagai Legends of the Sufis (London, 1965). Lihat juga al-Ghazali, Alchemy of Happiness. 56. Ar-Rumi (1207-73) lahir di Balkh, Afganistan dan wafat di Konia (Iconium) Turki, di mana 'tarian darwis' di muka umum sekarang dilarang kecuali sebagai suatu tontonan turis. 57. Abdul Qadir dari Gilan ('Sultan of the Friends') (1077-1166); Hadrat Bahauddin Naqsyabandi (asy-Syah) (1318-89). 58. 'Subud' didirikan oleh seorang Indonesia, Muhammad Subuh pada tahun 1934. Memperturutkan kata hati secara bebas dalam Latihan diketahui membangkitkan kepada suatu kondisi, sekarang dirujuk di dalam literatur sebagai 'Subud Psychosis'. 59. '"Kebenaran datang setelah 'keadaan' dan ekstasi, serta mendapatkan tempatnya" (Kalabadzi, Kitab at-Ta'aruf, mengutip Junaid dari Baghdad (wafat 910). Dalam versi A.J. Arberry, The Doctrine of the Sufis (Cambridge, 1935), hlm. 106: 'Tetapi apabila Kebenaran telah datang, ekstasi itu sendiri telah tercabut.' 60. Dalam Fihi Ma Fihi (diterjemahkan oleh A.J. Arberry sebagai 'Discourses of Rumi' (London, 1961); The Mathnawi (terj. R.A. Nicholson, London, 1926; J.W Redhouse, London 1881: E.H. Whinfield, London, 1887; C.E. Wilson, London, 1910, dan seterusnya). 61. Buku Pertama dari Hadiqah (terjemahan J. Stephenson sebagai 'Walled Garden of Truth', Calcutta, 1910); Karnama ('Book of the Worf); dan Diwan. 62. Misykat al-Anwar (terjemahan W.H. T. Gairdner sebagai Niche for Lamps, Royal Asiatic Society, London, 1924; Lahore, 1952). Ihya' 'Ulumiddin ('Revival of Religious Sciences'), 63. Futuhal al-Makkiyah ('Openings in Mecca'); Fushush al-Hikam ('Bezels of the Wisdoms'); Kimiya' as-Sa'adah (Alchemy of Happiness'); Tarjuman al-Asywaq ('Interpreter of Desires', terjemahan Nicholson). 64. Lihat Dietrici, Der Darwinismus im 10. and 19. Jahrhundert (Leipzig,1878); dan ar-Rumi, Matsnawi. 65. Syabistari, Garden of Mysteries/Secret Garden (abad ke-13-14); Sayad Ahmad Hatif Isfaharii, Tarjiband; dan lain-lain. 66. Misalnya, 'Dunia tersembunyi memiliki mendung dan hujan, dari suatu jenis yang berbeda ... terbuat nyata hanya bagi orang beradab, hal itu bukan ditipu oleh pemandangan keseluruhan dunia yang biasa' (ar-Rumi, Matsnawi):
67. Misalnya dalam karya Hujwiri (abad ke-11) The Revelation of the Veiled, s.v. 'Recapitulation of their Miracles'. 68. Lihat, sebagai contoh, No. IX dalam Diwan-i-Syams-i-Tabriz, hlm. 32 karya Nicholson (abad ke-13 dalam teks bahasa. Persia). 69. Profesor Mohammed Ali Aini, terjemahan A. Rechid, La Quintessence de la philosophie de Ibn-i-Arabi (Paris, 1926), hlm. 66-7. 70. Junaid dari Baghdad (wafat 910) oleh karena itu menjawab pemikiran yang terkondisi: 'Tidak ada seorang pun yang mencapai tingkat Kebenaran hingga seribu orang paling jujur memberikan kesaksian bahwa dia seorang (yang melakukan) bid'ah'. 71. Dalam bahasa Arab: At-Turuqu Ilahika nufusi bani Adama' (lihat Sirdar Ali Shah, Islamic Sufism, hlm. 211). 72. Lihat misalnya, Sa'di (1184-1263), Gulistan ('Rose Garden'), 'On the Manners of Dervishes' ('Tentang Pekerti Para Darwis'), terjemahan Agha Omar Ali Syah, Gulistan (Syeikh Mushlihuddin Sa'di asy-Syirazi, Le Jardin de Roses), Paris, 1966 Bandingkan Ibnu Hamdan, dikutip dalam Kasyf karya Hujwiri: 'Pastikan bahwa engkau tidak memperlakukan (melatih) dirimu sendiri untuk musik kalau hal itu menahanmu bahkan dari persepsi yang lebih tinggi.' Para darwis kontemporer dari tarekat Chisytiyah telah tersesat jauh dari intruksi-intruksi pendiri mereka dalam masalah ini, setuju dengan suatu keadaan terpisah dan ekstasis disebabkan oleh mendengar atau bermain musik. Muinuddin Chisyti sendiri menulis menentang praktek-praktek tersebut: "Mereka tahu bahwa kita mendengar musik dan bahwa kita menyadari 'rahasia-rahasia' tertentu sebagai suatu hasil. Jadi mereka bermain musik dan memasukkan diri mereka sendiri kedalam 'keadaan-keadaan' itu. Mengetahui bahwa setiap mendengar harus memiliki semua kebutuhannya terpenuhi, bukan hanya musik, pikiran, konsentrasi. Ingat: apa baiknya susu yang menakjubkan yang dihasilkan seekor lembu yang menyepak (menendang) ember tempat perahan susunya?' (Risalat, Epistles to Disciples). 73. Meski semua ditunaikan secara basa basi pada ajaran-ajaran Ibnu al-Arabi, sebagai contoh, mereka tidak menyerap kata-kata semacam itu, di mana dia merujuk Sufisme:
Atau kata-kata terkenal dari Abu Said ibnu Abi al-Khair (1040):
Mengenai batas-batas 'kendaraan' religius: Apa yang dapat Aku kerjakan, wahai orang-orang Muslim? Aku tidak dapat mengetahui diriku. Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Majusi, bukan Muslim. Bukan dari Timur, ataupun dari Barat' Diwan-i-Syams-i-Tabriz, xxxii, hlm. 124 (versi Persia). 74. Ibnu al-Arabi, Fushush al-Hikam ('Bezels or Segments of the Wisdom'), s.v El-Fas el-Adamia ('Segment of Adam): Menyatakan makna yang sama dengan penggunaan kata-kata lain (paraphrase), dalam S.A. Husaini, Ibnu al-Arabi (Lahore, 1931); versi bahasa Prancis: Burckhardt, T., Sagesse des Prophetes (Paris,l955) hlm. 22. 75. J.K Birge, The Bektashi Order of Dervishes (London,1937), hlm. 39, catatan no. 3. 76. Brown, The Darvishes, hlm. 475. 77. Cara-cara penyembahan ini kadang menunjukkan kemerosotan komunitas-komunitas serupa seperti yang saya gambarkan dalam Destination Mecca, hlm. 169 dan selanjutnya. 78. Suatu penetrasi persepsi dari kenyataan bahwa banyak gagasan-gagasan kaum Sufi telah disaring ke dalam komunitas primitif itu telah ditulis oleh penyair terkenal Ted Hughes dua tahun lalu: "Orang akan sangat cenderung mengatakan bahwa Syamanisme mungkin lebih baik menjadi barbar, keturunan yang tersesat dari Sufisme' (The Listener, 29 Oktober 1964, hlm. 678). 79. P. Lawrence, Road Belong Cargo (London, 1964), memuat sebuah deskripsi dari cara penyembahan tersebut dan sebuah bibliografi yang luarbiasa. 80. Vol. 290, no. 1754, hlm. 481-595; dan vol. 291, no. 1756, hlm. 123-35. 81. Siraat (dalam bahasa Inggris), Delhi, vol. I, no. 5, 1 Januari 1961, hlm. 5, kolom 1-3, 'Sufism in a Changing World', oleh Selim Brook-White ('Murid'). 82. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, vo1.10, no. 4 (Oktober), hlm. 271-4: J. Hallaj, 'Hypnotherapeutic Techniques in a Central Asian Community'. Cetak ulang dalam R.E. Shor dan M.T Orne, The Nature of Hypnosis (Bacaan Dasar yang Terseleksi) (New York, 1965), vol. 6, hlm. 453 dan seterusnya. 83. Vol. 197, no. 1132, Mei 1960: W. Foster, 'The Family of Hashim', hlm. 269-71. 84. Vol. clxii, no. 4210, 9 Desember 1965: D.R. Martin, 'Below the Hindu Kush', hlm. 870. 85. Beberapa dari artikel ini sekarang dicetak ulang dalam R.W Davidson, Document on Contemporary Dervish Communities (London, 1966-7). 86. The Times, no. 55, 955, 9 Maret 1964, 'Elusive Guardians of Ancient Secrets', hlm. 12, kolom 6-8. 87. She (Maret, 1963), hlm. 58: ('She: lihat rubrik Agama no. 11); dan juga (September 1965) 'The Hard High Life' oleh Mir S. Khan, hlm. 68-70. (Keduanya menggambarkan hal tersebut). 88. Dari karya monumental al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin ('Revival of Religious Sciences'). 89. Kalimat-kalimat kaum Sufi dan Sufisme oleh Para ahli sejarah Sufi awal: Dzun Nun orang Mesir (wafat 860): "Seorang Sufi adalah orang yang berbicara selaras dengan tingkah-lakunya, dan yang diam menandakan keadaannya, dan yang memutuskan hubungan dengan duniawi." Rabi'ah al-Adawiyah, seorang tokoh Sufi perempuan (wafat 717): "Sufi adalah diri yang tidak merasa takut akan Neraka, juga tidak mengharapkan Surga." Abul Hasan Nuri (wafat 907): "Sufisme adalah penangguhan seluruh kesenangan (singkat) terhadap dunia." Hujwiri (abad kesebelas): "Para pengikut Sufisme adalah orang yang mencari untuk mencapai tingkat membunuh diri sendiri dan menghidupkan kebenaran dengan bekerja keras. Dia yang telah mencapai tujuan ini disebut seorang Sufi." Junaid dari Baghdad (wafat 910): "Sufisme adalah suatu atribut di dalam mana merupakan nafkah hidup manusia." Nuri: "Sufi tidak memiliki dan tidak dimiliki oleh sesuatu." Ibnu al-Lalali (abad kesebelas): "Sufisme adalah kebenaran tanpa rumusan." 90. Ar-Rumi, 'AQL' (intelektual yang sesungguhnya). Dia juga mengatakan: "Buku tentang Sufi adalah tidak tertulis dan tersurat." (Matsnawi). 91. Inilah mengapa diagram-diagram psikologis dan lainnya menjadi 'mandala-mandala' dan 'figur-figur magic'. 92. Bermacam versi dari 'cerita-cerita ajaran' darwis dalam karya saya Tales of the Dervishes (London, 1967) telah ditampilkan oleh para guru Sufi sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada mereka, untuk alasan tersebut. 93. Seperti Profesor A.J. Arberry dari Cambridge meletakkannya, doktrin adalah tidak jelas (kabur) karena hal itu 'didasarkan secara luas atas pengalaman-pengalaman (sangat alamiah) mereka, nyaris tak terkomunikasikan' (Tales from the Mathnawi, London, 1961, hlm. 19). Term secara teknis untuk satu bentuk dari hal ini, penggunaan kata-kata yang tertulis dengan cara yang sama yang memiliki makna yang berbeda-beda, adalah Jinas-i-Mukharif banyak digunakan dalam puisi atau syair. Gibb (History of Ottoman Poetry [1900], I, 118) memperlihatkan kekerabatan (kebiasaan) dengan sistem ini, tetapi tidak menggunakannya dalam studi-studinya. 94. Mahmud Syabistari (1317), lazimnya dengan banyak guru Sufi, berbicara tentang alam (dunia) yang singkat dalam formulasi
Dalam teks bahasa Persia:
95. Bagaimanapun kecilnya bagian penting dari penyebaran Sufi ini diketahui dalam literatur lapangan dengan ditunjukkan oleh kenyataan bahwa nyaris hanya referensi humor dalam Sufisme dalam semua kisah, dibuat oleh seorang murid Amerika (Birge, The Bektashi Order of Dervishes, hlm. 88); dan bahkan dia memandang hal itu sebagai suatu 'karakteristik khusus' dari Aliran yang dia pelajari. Lihat juga, Shah, Exploits of the Incomparable Mulla Nasrudin (Jonathan Cape, London, 1966). 96. Kasus yang paling dikenal adalah bahwa Husain ibnu Manshur al-Hallaj, pahlawan Sufi yang agung, dipotong hidup-hidup dan dibunuh, jasadnya kemudian dibakar, atas perintah Khatifah al-Muqtadir, dari keturunan Harun ar-Rasyid, pada tahun 922, karena dengan lantang menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Profesor Louis Massignon spesialis ahli dalam literatur al-Hallaj. Lihat juga catatan no. 101 di bawah. Guru agung Suhrawardi juga dieksekusi karena ajaran 'filsafat kuno' pada abad keduabelas (lihat catatan no. 19 di atas). 97. Mengenai kelompok dan gerakan terkondisi dan terindoktrinasi, lihat R.J. Liftan, Thought Reform (London, 1961); J. Mann, Changing Human Behaviour (NewYork,1965); W.J.H. Sprott, Human Groups (London, 1958); M. Phillips, Small Social Groups in England (London, 1965). 98. Kisah tentang bagaimana Uwais telah dikunjungi oleh para sahabat Rasul setelah beliau wafat ditemukan dalam banyak buku, termasuk yang terkenal 'Recital of the Friends' (Lives of the Saint) oleh Fariduddin Aththar, diterjemahkan oleh A. Pavet de Courteillle sebagai Le Memorial des saints (Paris, 1889), hlm. 11 dan lainnya. Lihat ringkasan bahasa Inggris karya Dr. Behari (Fariduddin Attar's Tadhkiratul-Auliya) (Lahore, 1961). 99. Lihat Awarif al-Ma'arif, ditulis pada abad ketigabelas oleh Syeikh Syihabuddin Umar ibnu Muhammad Suhrawardi (versi Mahmud ibnu Ali al-Hasani, diterjemahkan dari bahasa Persia ke dalam bahasa Inggris oleh Letnan Kolonel H. Wilberforce Clarke [Calcutta, 1890]). 100. Kutipan terdapat dalam bahasa Arab: 'Syaribna 'ala dzikri al-habibi mudamatu/Syakirna bi ha min qalbi an yukhlaka alkarmu.' Profesor Hitti (op. cit., hlm. 436) menyebut Ibnu al-Farid hanya seorang penyair mistik. Sumbangan terjemahan Wilberforce Clarke, lihat supra, catatan no. 82. 101. Lihat Profesor L. Massignon, Le Diwan d'Al Hallaj (Paris, 1955) dan seterusnya. 102. Lihat karyanya Turkish Nationalism and Western Civilisation (London, 1959). 103. Sebagai contoh, diktum Ibnu al-Arabi: 'Orang-orang berpikir bahwa seorang Syeikh seharusnya menunjukkan keajaiban-keajaiban dan menyatakan pencerahan. Kebutuhan dari seorang guru, bagaimana pun, adalah bahwa dia hendaknya memiliki semua yang dibutuhkan murid.' 104. Dicatat dalam Hujwiri, The Revelation of the Veiled. 105. Manaqib, lihat catatan no. 55 di atas. 106. Dia menulis Majma' al-Bahrain ('Confluence of the Two Seas') diterbitkan dalam terjemahan oleh the Asiatic Society of Bengal. 107. Dalam sebuah 'lingkaran' Sufi, bahwa seorang anggota yang tidak cocok akan merusak upaya dari seluruhnya; hal ini diucapkan, misalnya, oleh Sa'di dalam Gulistan, 'On the Manners of Dervishes'. 108. Omar Khayyam (wafat 1123): untuk pertimbangan-pertimbangan terhadap ajaran-ajaran Sufi 'Khayyamis', lihat Swami Govinda Tirtha, The Nectar of Grace --Omar Khayyam's Life and Works (Allahabad,1941); dan Shah, The Sufis, hlm. 164-71. Puisi yang dikutip adalah kwartin 24 dari Bodieian MS., disunting oleh E. Heron-Allen (The Ruba'iyat of Omar Khayyam, London, 1898), hlm. 141. Teks aslinya:
Rubaiyat karya Khayyam telah diterjemahkan ulang dan diterbitkan pada tahun 1967 oleh Robert Graves dan Omar Ali-Shah dengan komentar-komentar kritis. 109. Lihat versi bahasa Inggris oleh Maulvi S.A.Q. Hussaini, dalam Ibn Al- Arabi (Lahore, 1931), VI, 1, hlm. 38. 110. R. Simac, 'In Naqshabandi Circle', Hibbert Journal (Spring, 1967), vol. 65, no. 258. Lihat juga Shah, Exploits of the Incomparable Mulla Nasrudin (London dan New York, 1966), dan Caravan of Dreams (London, 1968). |
ASAL-USUL GERAKAN SUFI
BalasHapusSesunggunya gerakan sufi itu merupakan pola hidup zuhud terhadap dunia. Zuhud artinya menghindari hidup berfoya-foya dan bergaya hidup mewah. Dengan hidup zuhud diharapkan seorang hamba menjadi tekun menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pola hidup zuhud ini dilakukan oleh sejumlah ulama sebagai reaksi terhadap kehidupan mewah dan tidak agamis dari sebagian umat islam di jaman itu, terutama elit birokrat. Hidup mewah umat islam pada saat itu karena dipengaruhi oleh suksesnya imperium politik islam yang berhasil menguasai daerah-daerah subur dan kaya sejak abad pertama hijriyah.
Para ulama menerapkan pola hidup zuhud terhadap dunia dengan maksud melestarikan kehidupan yang benar-benar islami, sebagimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan umat islam pada awal abad pertama hijriyah.
Ketika islam berjaya dan Rasulullah saw telah wafat, begitu juga satu persatu para sahabat dan khulafaur rasyidin pergi meninggalkan mereka, ada gejala kecenderungan hidup berfoya-foya, yang mana hidup berfoya-foya itu dinilai oleh ulama sebagai penyimpangan dari ajaran islam. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa gerakan sufi sesungguhnya adalah gerakan pengembalian islam secara orisinil.
Munculnya gerakan sufisme juga dipicu oleh kehidupan beragama yang terlalu formalitas dan mengabaikan aspek batiniyah. Sepeninggal Rasulullah saw seluruh jazirah Arab telah menyatakan tunduk kepada pemerintahan Madinah. Tidak terlalu lama kemudian, daerah kekuasaan politik (imperium) islam berkembang dengan cepat, meluas sampai meliputi daerah yang terbentang dari sungai Nil di bagian barat dan sungai Oxus di timur.
Ketika itu umat islam di Madinah benar-benar sukses luar biasa. Sukses di bidang politik dan militer ternyata membawa berbagai akibat yang sangat luas. Salah satunya adalah sistem hukum sebagai salah satu alat untuk pengatur masyarakat. Aturan hukum yang kemudian dikenal dengan istilah fiqh. Lama-kelamaan istilah figh kemudian menjadi sentral dalam pemikiran agama. Dengan begitu, seringkali agama diidentikkan sebagai fiqh. Karena yang demikian itu, maka pandangan terhadap keislaman seseorang hanya diukur bersadarkan kepatuhannya terhadap aturan fiqh.
Padahal, istilah fiqh mengandung makna asli pemahaman mendalam. Identik juga dengan syari`ah, yang secara bahasa berarti jalan menuju sumber air. Pada mulanya istilah syari`ah digunakan dalam Al-Qur`an untuk menunjuk pada suatu konsep yang luas mencakup kebenaran spiritual sufi (hakikat), kebenaran akal pada filosof dan teologi, serta kebenaran hukum (fiqh).
Selain hal tersebut, negara yang dibentuk oleh tatanan islam di Madinah sangat memerlukan fiqh (hukum) karena seringkali terancam oleh berbagai tindak pembunuhan dan kekacauan. Negara tidak saja membutuhkan ketertiban dan keamanan, tetapi juga kepastian hukum. Dalam keadaan seperti ini, kesalihan seseorang dalam beragama diukur berdasarkan kepatuhan terhadap hukum (fiqh). Konsep yang berkembang seperti ini perlahan-lahan membawa seseorang memahami agama sebatas aspek lahiriah saja (tinglah laku saja). Kemudian mengabaikan hal-hal yang berkenaan dengan batiniah (spiritual). Keadaan yang demikian inilah oleh golongan zuhud dianggap sebagai pengamalan agama sebatas pada formalitas saja, pengamalan agama yang hanya mengutamakan segi tingkah laku dan lahiriah.
Orang-orang yang cenderung kepada formalitas fiqh yang berpusat pada masalah-masalah fiqiyah menyebut dirinya sebagai faham keagamaan (fiqh) dan jalan yang benar (syari`ah). Sedangkan orang-orang zuhud yang berorientasi pada pengamalaman spiritual juga mengatakan bahwa dirinya sebagai pengetahuan (ma`rifah) dan jalan menuju kebahagiaan (tariqah).
KEDUDUKAN ILMU TASAWUF
BalasHapusoleh Silverhawk War pada 12 Maret 2012 pukul 10:48 ·
KEDUDUKAN ILMU TASAWUF
·
Mengikut pandangan al-Imam al-Syeikh 'Abd al-Wahhab al-Sya'raniy di dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah, tasawuf adalah:"beramal dengan ilmu syariat dengan ikhlas dan tulus. Kalau engkau melihat kepada ulama tasawuf di zaman silam yang mengasaskannya, mereka semuanya adalah ulama yang beramal dengan ilmu mereka dan juga merupakan para pendakwah yang mengikut al-Quran dan al-Sunnah sebab itu terpancar cahaya mereka dan kesan mereka berterusan sampai ke hari ini.
Jadi tasawuf adalah mempelajari fardu ain kemudian beramal dengan ilmu tersebut untuk mendapatkan ketulusan dan keikhlasan dengan memohon bantuan Allah dan berterusan mengingati Allah dengan berzikir dan beribadah untuk membersih ruh dan menyucikan jiwa serta mengubati hati yang sakit.
Tidak dinamakan tasawuf kalau tidak berilmu, dan ilmu tidak akan bermanfaat kalau tidak disertakan amalan. Sesiapa yang mengatakan tasawuf itu tanpa ilmu dan tanpa amal maka itu bukanlah tasawuf.Untuk menjelaskan lagi tentang hakikat tasawuf, di sini akan diterangkan pandangan ulama dan para solihin tentang tasawuf:
1. Imam Ahl al-Sunnah al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada anaknya Abdullah:" Wahai anakku, hendaklah engkau menghadiri majlis orang-orang tasawuf karena mereka akan membuatkan engkau memiliki banyak ilmu, kuat muraqabah, selalu takutkan Allah, zuhud dan tinngi keazaman". Beliau juga pernah berkata:" Aku tidak mengenali orang yang lebih baik daripada mereka".
2. Imam al-Ghazali berkata:" Aku mengetahui dengan yakin bahawa orang-orang tasawuf berjalan menuju Allah, dan perjalanan mereka adalah sebaik-baik perjalanan dan jalan mereka adalah jalan yang paling benar dan mereka memiliki akhlak yang amat tinggi.
3. Al-'Izz bin 'abd al-Salam berkata:"Golongan sufi adalah golongan yang betul-betul mengikuti syariat dan mereka tidak akan merusakkan dunia dan akhirat, sementara orang lain hanya hebat diluaran saja".
4. Imam Malik berkata:"Sesiapa yang berfiqih dan tidak bertasawuf maka dia telah fasiq dan sesiapa betasawuf dan tidak berfiqih maka dia telah zindiq, dan sesiapa yang mengambil kedua-duanya maka dia telah menepati kehendak Allah".
BalasHapus5. Imam Syafie berkata:"Di dunia ini aku suka tiga perkara;pertama:Meninggalkan perkara remeh, kedua: Bergaul dengan makhluk dengan lemah lembut,ketiga: Mengikut jalan orang-orang tasawuf."
6. Mengikut pandangan Imam Sayuti, teras jalan tasawuf ada lima:
a. Bertaqwa zahir dan batin, ketika bersendiri dan di khalayak ramai.
b. Mengikut Sunnah pada perkataan dan perbuatan.
c. Menghindari percampuran dengan makhluk di dalam masalah yang tidak
berfaedah.
d. Ridha dengan pemberian Allah samada banyak atau sikit.
e. Kembali kepada Allah ketika senang dan susah.
7. Imam Fakhr al-Din al-Razi:"Sesiapa yang mengkelasifikasikan manusia tanpa menyebut golongan tasawuf adalah salah, kerana mereka menyebut bahawa jalan menuju makrifah Allah ialah dengan menumpukan sepenuh perhatian dan dengan menyucikan jiwa daripada sebarang ikatan fizikal.Ini adalah jalan yang baik." Beliau juga pernah menyebut:"Kaum sufi adalah mereka yang sentiasa sibuk berfikir kebesaran Allah dan mengosongkan jiwa daripada ikatan jasmani, bersungguh-sungguh supaya dalaman dan fikiran mereka sentiasa berzikir ketika mereka bercakap dan bekerja, bersikap baik adab dengan Allah dan mereka adalah sebaik-baik makhluk.
BalasHapus8. Ibnu Taimiyyah:"...adapun orang-orang sufi yang lurus di kalangan mejoriti ulama salaf seperti Fudail bin 'Ayyad, Ibrahim Adham, Abu Sulaiman al-Darani,Ma'ruf al-Kharkhi,Sirri al-Siqti, al-Junaid bin Muhammad, Syeikh Abd Kadir al-Jailani, Syeikh Hammad, Syeikh Abu al-Bayan. Mereka tidak pernah menyarankan kepada murid agar keluar daripada suruhan dan larangan syariat sekalipun mereka boleh terbang dan berjalan di atas air.Bahkan menyarankan kepada murid agar terus berpegang dengan perintah Allah dan menjauhi laranganNya serta meninggalkan perkara2 keji sehingga mati.Ini adalah benar seperti mana yang ditunjukkan oleh al-Kitab dan al-Sunnah serta ijma' ulama.
9. Taj al-Din al-Subki:Allah telah memuliakan mereka, semoga Allah memasukkan kita bersama-sama mereka (Golongan sufi) ke dalam syurga.Sesungguhnya terlalu banyak ungkapan tidak benar tentang mereka akibat daripada kejahilan dan ramai yang menyamar sebagai sufi sepertimana yang telah diungkapkan oleh Syeikh Abu Muhammad al-Juwaini:"Tidak harus menghukum mereka karena tidak ada ketentuan bagi mereka, yang pastinya mereka adalah suatu golongan yang menjauhkan diri daripada dunia semata-mata menumpukan perhatian kepada ibadah. Kesimpulannya mereka adalah Ahlillah dan hambanya istimewaNya yang mengharapkan rahmatNya daripada zikir mereka, memohon pertolongan dengan doa mereka. Moga-moga Allah meredai mereka dan kita semua.
10. Imam Syatibi:"Ramai di kalangan orang-orang jahil beriktikad bahawa golongan sufi dengan mudahnya mengikut dan beriltizam dengan apa yang tidak didatangkan oleh syara'.Moga Allah menjauhkan mereka daripada sekelian tersebut. Pertama sekali mereka membina jalan mereka dengan mengikut sunnah dan menjauhkan daripada perkara-perkara yang dilarang olehnya".
BalasHapus11. Ibnu Khaldun:"Ilmu ini adalah ilmu baru di dalam agama.Asalnya jalan mereka adalah jalan salaf al-saleh seperti para sahabat dan tabi'in dan orang-orang selepas mereka.Jalan ini adalah yang benar dan jalan petunjuk.Asalnya adalah jalan ibadah dan memutuskan diri daripada kemewahan dunia dan perhiasannya kerana menumpukan ibadah kepada Allah dan zuhud daripada apa yang sentiasa dikejar oleh kebanyakan orang ramai seperti cinta dunia, pangkat dan darajat, menyendiri di dalam khalwah untuk beribadah, perkara ini sudah menjadi kebiasaan kepada para sahabat dan salaf.Setelah manusia berbondong-bondong mengejar dunia bermuala pada kurun ke dua, maka mereka(sufi) diberi gelaran sufiyyah.
12. Abu Hassan Ali al-Nadawi:"Sesungguhnya ahli sufi mengambil bai'ah agar manusia mentauhidkan Allah, ikhlas dan mengikut sunnah, bertaubat daripada semua dosa-dosa, taat kepada Allah dan Rasulullah s.a.w.,menjauhkan diri daripada perkara keji,mungkar,buruk akhlak, zalim dan kasar.Mereka gemar menghiasi diri mereka dengan akhlak mulia dan membuang sifat keji seperti ego, hasad, saling membenci, zalim dan cinta pangkat kedudukan. Mereka(sufi) membersihkan jiwa manusia dengan tarbiah dan mengajar mereka zikrullah, memberi nasihat, bersifat memadai dengan pemberian Allah dan berkorban. Yang lebih tinggi pada baiah adalah lambang hubungan kukuh di antara mursyid dan murid.Mereka selalu memberi peringatan kepada manusia dan cuba meniup bara cinta Allah di dalam hati manusia, rindu kepada keredaanNya dan amat suka memperbaiki diri serta mengubah hal mereka di sisi Allah.
http://al-anshary.blogspot.com/
Definisi Tasawuf
BalasHapusoleh Silverhawk War pada 11 Desember 2011 pukul 12:01 ·
Definisi Tasawuf
Dalam sejarah perkembangannya, Sufi dan Tasawuf beriringan. Beberapa sumber dari para Ulama Sufi, para orientalis maupun dari kitab-kitab yang berkait dengan sejarah Tasawuf memunculkan berbagai definisi. Definisi ini pun juga berkait dengan para tokoh Sufi setiap zaman, disamping pertumbuhan akademi Islam ketika itu. Namun Reinold Nicholson, salah satu guru para orientalis, membuat telaah yang terlalu empirik dan sosiologik mengenai Tasawuf atau Sufi ini, sehingga definisinya menjadi sangat historik, dan terkebak oleh paradigma akademik-filosufis. Pandangan Nicolson tentu diikuti oleh para orientalis berikutnya yang mencoba mentyibak khazanah esoterisme dalam dunia Islam, seperti J Arbery, atau pun Louis Massignon. Walaupun sejumlah penelityian mereka harus diakui cukupo berharga untuk menyibak sisi lain yang selama ini terpendam.
Bahwa dalam sejarah perkembangannya menurut Nicholson, tasawuf adalah sebagai bentuk ekstrimitas dari aktivitas keagamaan di masa dinasti Umawy, sehingga para aktivisnya melakukan ‘Uzlah dan semata hanya demi Allah saja hidupnya. Bahkan lebih radikal lagi Tasawuf muncul akibat dari sinkretisme Kristen, Hindu, Budha dan Neo-Platonisme serta Hellenisme. Penelitian filosufis ini, tentu sangat menjebak, karena fakta-fakta spiritual pada dasarnya memiliki keutuhan otentik sejak zaman Rasulullah Muhammad saw, baik secara tekstual maupun historis.
Dalam kajian soal Sanad Thariqat, pada Bab II bagian 3, bisa terlihat bagaimana validitas Tasawuf secara praktis, hingga sampai pada alurnya Tasawuf rasulullah saw. Fakta itulah yang nantinya bisa membuka cakrawala historis, dan kelak juga berpengaruh munculnya berbagai ordo Thariqat yang kemudian terbagi menjadi Thasriqat Mu’tabarah dan Ghairu Mu’tabarah.
BalasHapusPandangan paling monumental tentang Tasawuf justru muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang Ulama sufi abad ke 4 hijriyah. Al-Qusyairy sebenarnya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa definisi Tasawuf atau Sufi muncul melalui akar-akar historis, akar bahasa, akar intelektual dan filsafat di luar dunia Islam. Walaupun tidak secara transparan Al-Qusyairy menyebutkan definisinya, tetapi dengan mengangkat sejumlah wacana para tokoh Sufi, menunjukkan betapa Sufi dan Tasawuf tidak bisa dikaitkan dengan sejumlah etimologi maupun sebuah tradisi yang nantinya kembali pada akar Sufi.
Dalam penyusunan buku Ar-Risalatul Qusyairiyah misalnya, ia menegaskan bahwa apa yang ditulis dalam Erisalah tersebut untuk menunjukkan kepada mereka yang salah paham terhadap Tasawuf, semata karena kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri. Ruhnya adalah friman Allah swt.:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglkah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.,” (Q.s. Asy-Syams: 7-8)
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia berdzikir nama Tuhannya lalu dia shalat.” (Q.s. Al-A’laa: 14-15)
“ Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang alpa.” (Q.s. Al-A’raaf: 205)
“Dan bertqawalah kepada Allah; dan Allah mengajarimu (memberi ilmu); dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.s. Al-Baqarah : 282)
Sabda Nabi saw:
BalasHapus“Ihsan adalah hendaknya negkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu” (H.r. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)
Tasawuf pada prinsipnya bukanlahg tambahan terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf adalah impklementasi dari sebuah kerangka agung Islam.
Secara lebih rinci, Al-Qusyairy meyebutkan beberapa definisi dari para Sufi besar:
Muhammad al-Jurairy:
“Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang tercela.”
Al-Junaid al-Baghdady:
“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu bersama denganNya.”
“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. Tanpa keterikatan dengan apa pun.”
“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.”
“Tasawuf adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.”
“Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang diserta sama’, dan tindakan yang didasari Sunnah Nabi.”
“Kaum Sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”
“ Jika engkau meliuhat Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriyahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya rusak.”
Al-Husain bin Manshur al-Hallaj:
“Sufi adalah kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun menerimanya dan juga tidak menerima siapa pun.”
Abu Hamzah Al-Baghdady:
“Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, bersembunyi setelah terkenal. Sedang tanda Sufi yang palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tertinggi setelah mengalami kehinaan, menjadi masyhur setelah tersem,bunyi.”
Amr bin Utsman Al-Makky:
“Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik saat itu.”
Mohammad bin Ali al-Qashshab:
BalasHapus“Tasawuf adalah akhlak mulia, dari orang yang mulia di tengah-tengah kaum yang mulia.”
Samnun:
“Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki apapun.”
Ruwaim bin Ahmad:
“Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendakiNya.”
“Tasawuf didasarkan pada tiga sifat: memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dan meninggalkan sikap kontra, dan memilih.”
Ma’ruf Al-Karkhy:
“Tasawuf artinya, memihak pada hakikat-hakikat dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk”.
Hamdun al-Qashshsar:
“Bersahabatlah dengan para Sufi, karena mereka melihat dengan alasan-alasan untuk mermaafkan perbuatan-perbuatan yang tak baik, dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan suatu yang besar, bahklan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakan kebaikan itu.”
Al-Kharraz:
“Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan jiwa yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat dio hatinya, ingatlah, menangislah kalian karena kami.”
Sahl bin Abdullah:
“Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.”
Ahmad an-Nuury:
“Tanda orang Sufi adalah ia rela manakala manakala tidak punya, dan peduli orang lauin ketika ada.”
Muhammad bin Ali Kattany:
“Tasawuf adalah akhlak yang baik, barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam Tasawuf.”
Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary:
“Tasawuf adalah tinggal di pintu Sang Kekasih, sekali pun engklau diusir.”
“Tasawuf adalah Sucinya Taqarrub, setelah kotornya berjauhan denganya.”
Abu Bakr asy-Syibly:
BalasHapus“Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt. tanpa hasrat.”
“Sufi terpisah dari manusia, dan bersambung dengan Allah swt. sebagaimana difirmankan Allah swt, kepada Musa, “Dan Aku telagh memilihmu untuk DiriKu” (Thoha: 41) dan memiusahkannya dari yang lain. Kemudian Allah swt. berfirman kepadanya, “Engkau takl akan bisa melihatKu.”
“Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Yang Haq.”
“Tasawuf adalah kilat yang menyala, dan Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”
“Sufi disebut Sufi karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.”
Al-Jurairy:
“Tasawuf berarti kesadaran atas keadaaan diri sendiri dan berpegang pada adab.”
Al-Muzayyin:
“Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.”
Askar an-Nakhsyaby:
“Orang Sufi tidaklah dikotori suatu apa pun, tetapi menyucikan segalanya.”
Dzun Nuun Al-Mishry:
“Kaum Sufi adalah mereka yang mengutamakan Allah swt. diatas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah di atas segala makhluk yang ada.”
Muhammad al-Wasithy:
BalasHapus“Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan, dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.”
Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusy:
“Aku bertanya kepada Ali al-Hushry, siapakah, yang menurutmu Sufi itu? ” Lalu ia menjaqwab, “Yang tidak di bawa bumi dan tidak dinaungi langit.” Dengan ucapannya menurut saya, ia merujuk kepada keleburan.”
Ahmad ibnul Jalla’:
“Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiyah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali rtidak memiliki sarana-sarana duniawy. Mereka bersama Allah swt. tanpa terikat pada suatu tempat tetapi Allah swt, tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya diosebut Sufi.”
Abu Ya’qub al-Madzabily:
“Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.”
Abul Hasan as-Sirwany:
“Sufi yang bersama ilham, bukan dengan wirid yang mehyertainya.”
Abu Ali Ad-Daqqaq:
“Yang rtevbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah, “Inilah jalan yang tidak cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Allah swt, untuk menyapu kotoran binatang.”
“Seandainya sang fakir tak punya apa-apa lagi kecuali hanya ruhnya, dan ruhnya ditawarkannya pada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang menaruh perhatian padanya.”
Abu Sahl ash-Sha’luki:
“Tasawuf adalah berpaling dari sikap menentang ketetapan Allah.”
Dari seluruh pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya.
Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Allah swt, dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan RasulNya, pengakuan diri akan haknya sebagai hama dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.
Terminologi Tasawuf
Di dalam dunia Tasawuf muncul sejumlah istilah-istilah yang sangat populer, dan menjadi terminologi tersendiri dalam disiplin pengetahuan. Dari istilah-istilah tersebut sebenarnya merupakan sarana untuk memudahkan para pemeluk dunia Sufi untuk memahami lebih dalam. Istilah-istilah dalam dunia Sufi, semuanya didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Karena dibutuhkan sejumlah ensiklopedia Tasawuf untuk memahami sejumlah terminologinya, sebagaimana di bawah ini, yaitu:
Ma’rifatullah, Al-Waqt, Maqam, Haal, Qabdh dan Basth, Haibah dan Uns, Tawajud – Wajd – Wujud, Jam’ dan Farq, Fana’ dan Baqa’, Ghaibah dan Hudhur, Shahw dan Sukr, Dzauq dan Syurb, Mahw dan Itsbat, Sitr dan Tajalli, Muhadharah, Mukasyafah dan Musyahadah, Lawaih, Lawami’ dan Thawali’, Buwadah dan Hujum, Talwin dan Tamkin, Qurb dan Bu’d, Syari’at dan Hakikat, Nafas, Al-Khawathir, Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, Warid, Syahid, Nafsu, Ruh, Sirr, dan yang lainnya.
Kemudian istilah-istilah yang masuk kategori Maqomat (tahapan) dalam Tasawuf, antara lain:
Taubat, Mujahadah, Khalwat, Uzlah, Taqwa, Wara’, Zuhud, Diam, Khauf, Raja’, Huzn, Lapar dan Meninggalkan Syahwat, Khusyu’ dan Tawadhu’, Jihadun Nafs, Dengki, Pergunjingan, Qana’ah, Tawakkal, Syukur, Yakin, Sabar, Muraqabah, Ridha, Ubudiyah, Istiqamah, Ikhlas, Kejujuran, Malu, Kebebasan, Dzikir, Futuwwah, Firasat, Akhlaq, Kedermawaan, Ghirah, Kewalian, Doa, Kefakiran, Tasawuf, Adab, Persahabatn, Tauhid, Keluar dari Dunia, Cinta, Rindu, Mursyid, Sama’, Murid, Murad, Karomah, Mimpi, Thareqat, Hakikat, Salik, Abid, Arif, dan seterusnya.
Seluruh istilah tersebut biasanya menjadi tema-tema dalam kitab-kitab Tasawuf, karena perilaku para Sufi tidak lepas dari substansi dibalik istilah-sitilah itu semua, dan nantinya di balik istilah tersebut selain bermuatan substansi, juga mengandung “rambu-rambu” jalan ruhani itu sendiri.
Petunjuk
Mohammad Luqman Hakim MA